10 Faktor Penyebab Tawuran Pelajar dan Cara Mengatasinya

10 Faktor Penyebab Tawuran Pelajar dan Cara Mengatasinya
10 Faktor Penyebab Tawuran Pelajar dan Cara Mengatasinya

Tawuran adalah bentuk kekerasan antar geng sekolah dalam masyarakat urban. Meski sudah banyak tindakan dari aparat kepolisian, namun hingga kini tawuran masih saja kerap terjadi. Bukan hanya antara warga namun juga yang memprihatinkan adalah tawuran antara pelajar. Banyak motif dari tawuran antar pelajar, mulai dari salah faham yang menyebabkan suatu kelompok merasa terhina, dendam yang sudah mengakar, ingin menunjukan kemampuan untuk gagah-gagahan, hingga seolah-olah menjadi tradisi turun temurun dari angkatan satu ke angkatan di bawahnya, terutama di ibukota.

Banyak korban yang timbul karena tawuran pelajar, bukan saja kerugian dalam artian luka-luka dan bahkan nyawa, kerugian juga dapat berupa materi misalnya kerusakan fasilitas. Kerugian ini tidak hanya terdampak pada para pelajar yang melakukan tawuran, melainkan juga pada orang-orang tak bersalah yang pada saat kejadian berada di lokasi. Dengan demikian, sudah pantaslah tawuran ini dapat disudahi karena jelas tidak ada manfaatnya.

Sebelum mengetahui bagaimana tawuran pelajar dapat diatasi, kita harus mengetahui terlebih dahulu mengapa tawuran pelajar dapat terjadi. Secara garis besar, ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan para pelajar melakukan tawuran yaitu sebagai berikut.

1. Faktor Tabiat
Tak diragukan lagi, faktor utama penyebab tawuran pelajar adalah tabiat dari para pelaku sendiri. Kondisi emosional yang tidak terjaga dan ketidakmampuan untuk menahan diri dari amarah merupakan sebab bagaimana tawuran pelajar dapat dimulai. Tawuran adalah manifestasi dari emosi yang tidak terkontrol dalam menghadapi suatu “serangan” dari suatu kelompok lain.

Pada umumnya, tawuran pelajar diawali dengan masalah kecil yang melibatkan perseorangan lalu membesar menjadi permasalahan kelompok karena faktor relasi. Masing-masing pribadi tidak dapat menahan emosinya dan akhirnya melakukan jalan kekerasan untuk memperlihatkan rasa tidak suka dan tidak setuju dengan beradu fisik. Tambahan pula, emosi ini lama-lama akan menjadi dendam antar kelompok dan akhirnya munculah istilah “musuh abadi” yang biasanya menjadi dasar untuk terjadinya tawuran pelajar.

2. Pengaruh Keluarga
Keluarga sebagai tempat pendidikan pertama bagi setiap pribadi merupakan ujung tombak dari penanaman nilai dan budi pekerti. Biasanya pelajar yang mengikuti tawuran atau menjadi provokator terjadinya perkelahian antar sekolah memiliki keluarga yang broker, di mana keharmonisan keluarga, perhatian dan kasih sayang orang tua tidak dia dapatkan dan untuk mencari perhatian dia mengikuti kegiatan di luar norma misalnya dengan menjadi ketua geng yang sering sekali mengajak atau memprovokasi terjadinya aksi tawuran.. 

Oleh karena itu keharmonisan dalam keluarga sangatlah penting, karena akan yang menjadi faktor utama dalam psikologis pemikiran anak. Peran orang tua dalam mendidik anaknya menjadi penyebab perilaku dan pola pikir anak, oleh karena itu pengaruh keluarga menjadi faktor yang sangat penting dalam penyebab tawuran pelajar..

3. Pengaruh Pergaulan
Di sekolah, ada beberapa kelompok siswa. Ada kelompok orang yang rajin dan cerdas seperti mereka yang selalu juara kelas, anggota OSIS, dan mereka yang selalu mengikuti berbagai perlombaan. Ada kelompok orang yang cerdas namun tidak terlalu ingin mengikuti hiruk pikuk kegiatan sekolah. Mereka biasanya lebih suka bermain game dengan laptopnya atau hanya sekedar bergaul dengan teman-temannya. Yang terakhir, ada kelompok orang yang bisa dikatakan “salah pergaulan”. Mereka biasanya membentuk geng dan suka melanggar peraturan sekolah. Nah, kelompok yang terakhir inilah yang seringkali mengadakan tawuran. Meskipun demikian, ada juga orang dari kelompok itu yang ingin “tobat”. Namun karena tidak diterima di kelompok yang lebih baik, orang tersebut akan kembali ke kelompok gengnya.

4. Tumbuhnya Jiwa Premanisme
Mental sebagian siswa yang ingin tampil keren, punya banyak uang, tapi tidak perlu kerja juga menjadi penyebab terjadinya tawuran. Mereka biasanya suka memalak siswa yang lemah. Nah, ketika siswa yang dipalak tersebut ternyata merupakan anggota geng lain, siswa tersebut pasti akan melapor ke ketuanya sehingga akan berujung pada tawuran di mana siswa yang dipalak dengan gengnya akan menuntut balas.

5. Pengaruh Lingkungan Urban
Keadaan urban dengan kondisi lingkungan di Indonesia yang di mana masyarakat nya banyak yang menengah ke bawah menjadi rentan akan kekerasan dan kejahatan. Lingkungan yang sering dirasakan oleh siswa di tempat tinggalnya sangat berpengaruh kepada siswa.

Seringnya terjadi keributan di lingkungan tempat tinggalnya membuat pola pikir anak berubah, bahwa masalah yang seharusnya bisa di selesaikan dengan kekeluargaan akan tetapi di selesaikan dengan cara kekerasan dan adu otot.

6. Gengsi
Gengsi sering menjadi alasan mengapa siswa laki-laki ikut tawuran, bagi siswa yang tidak ikut akan dianggap bahwa dia adalah siswa yang lemah, penakut, dan akan menjadi bahan ejekan dan bulan-bulanan bagi siswa yang lainnya.

Gengsi yang tertanam di jiwa siswa laki-laki sangat besar, tawuran juga biasa dijadikan aksi unjuk gigi dan ajang kuat-kuatan, siapa saja yang berhasil menaklukkan lawan akan disegani oleh siswa lainnya, gengsi seperti ini harus dihilangkan.

7. Minuman Keras
Memang cukup aneh bila ditemukan anak dibawah umur sudah minum minuman keras. Yang harus dipertanyakan darimana minuman tersebut didapat? Apakah penjual minuman keras tidak mengerti aturan pembatasan usia atau hanya semata-mata untuk mencari uang? Saat dalam kondisi mabuk, siswa bisa saja tanpa sadar menuju ke "markas geng" sekolah lain dan menantang/mengejek mereka sehingga akhirnya berujung pada tawuran.

8. Kurangnya Perhatian dari Guru
Guru biasanya hanya memperhatikan mereka yang pintar dan mengabaikan mereka yang kurang pintar. Padahal kemampuan setiap siswa berbeda-beda. Seharusnya yang kurang pintar ini dibimbing dan dicari tahu bakatnya kemudian disalurkan ke ekstrakurikuler yang tepat, supaya siswa ini juga punya prestasi di sekolah.

Proses pembimbingan oleh guru ini seharusnya dilakukan sejak mereka masih menjadi siswa baru karena mereka belum mengenal satu sama lain. Jika tidak diperhatikan, mereka akan mencari perhatian lain dengan berkumpul dengan "sesama" mereka. Inilah cikal bakal munculnya geng yang berujung pada tawuran pelajar.

9. Ketegasan Pihak Sekolah dan Pemerintah
Sekolah dan pemerintah juga turut berperan untuk mencegah terjadinya tawuran pelajar. Seperti melarang keluyuran di luar sekolah saat masih beratribut sekolah dan menghimbau agar siswa wajib pulang ke rumahnya setelah jam pulang sekolah berbunyi. Hal tersebut karena setelah pulang sekolah biasanya para siswa yang terlibat tawuran tidak langsung pulang ke rumah walaupun hanya untuk sekedar berganti pakaian. Tetapi mereka langsung ke "posko geng"nya untuk mengumpulkan "pasukan" dan mengadakan tawuran.

Selain pengawasan siswa saat pulang sekolah, Pembiaran anak dibawah umur untuk membawa kendaraan bermotor ke sekolah dan lemahnya upaya pencegahan pembolosan juga merupakan faktor pendukung terjadinya tawuran antar pelajar.

Baca Juga : 12 Cara Tercepat dan Ampuh Memutihkan Gigi Kuning Secara Alami

10. Sejarah Hubungan Antar Sekolah
Salah satu yang menjadi faktor terjadinya tawuran antar pelajar adalah sekolah yang mereka tempati memiliki hubungan yang kurang baik dengan sekolah lain, hubungan kurang baik ini biasanya sudah berlangsung sudah lama dan dijadikan sebagai rivalitas.

Mereka saling mempunyai sentimen negatif terhadap sekolah rivalnya. Akibatnya ketika mereka bertemu (misalnya dalam sebuah perlombaan), sangat rentan terjadi tawuran. Sama halnya seperti tawuran antar suporter sepak bola. Apalagi jika dipicu dengan yel-yel yang menyinggung sekolah lain.

Cara Mengatasi Tawuran Pelajar yang Sering Terjadi

Untuk mengatasi tawuran pelajar setidaknya ada dua macam pendekatan yaitu preventif (mencegah) dan kuratif (menganggulangi). Pendekatan-pendekatan ini dilakukan berdasarkan faktor-faktor yang menjadi penyebab munculnya tawuran seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Beberapa pendekatan preventif berikut dapat dijadikan acuan guna mencegah para pelajar / seseorang melakukan tawuran:

1. Pendekatan keluarga
Keluarga merupakan benteng pertama bagi anak-anak terhadap pengaruh buruk lingkungan. Peran ayah dan ibu dalam keluarga harus bisa menjadi teladan bagi anak mereka dan memberikan waktu yang cukup untuk kegiatan bersama. Banyak pemuda yang melakukan tawuran berasal dari keluarga broken home.

Sehingga untuk mencegah seorang anak terlibat tawuran / tindakan anarkis lainnya, kondisi dalam keluarga harus senantiasa harmonis dan tidak menunjukan segala sesuatu yang berhubungan dengan kekerasan dalam rumah tangga. Semua anggota keluarga harus belajar bahwa emosi bisa dikendalikan dan lebih mengutamakan pendekatan diskusi apabila terjadi sebuah perselisihan.

2. Pengendalian diri
Selain keluarga yang harmonis, pengendalian terhadap diri sendiri juga menjadi hal yang amat penting untuk mencegah kita (para pelajar) terlibat dalam tawuran. Cobalah untuk menjadi orang yang lebih sabar dan mendahulukan diskusi dibandingkan perlakuan fisik, apalagi hanya untuk masalah kecil. Orang bijak berkata bahwa "kepala boleh panas namun tangan harus tetap dingin". Bila para pelajar sanggup mengendalikan diri mereka maka niscaya tidak akan terjadi tawuran antar pelajar.

3. Pembatasan pergaulan
Pergaulan memang boleh dilakukan dengan siapa saja namun dalam pergaulan kita harus bisa memilah mana pengaruh yang dapat kita terima, mana yang harus kita tolak berdasarkan nilai dan norma yang kita ketahui. Bila kita bergaul dengan orang-orang yang rela berbuat apa saja demi tujuannya meski dengan kekerasan maka jauhilah.

Dan yang harus kita ingat bahwa persahabatan dan ikatan pertemanan yang kuat itu baik. Namun, hal ini menjadi tidak baik seandainya dengan dalih persahabatan maka terjadi peperangan antara dua kubu yang sebenarnya terjadi karena masalah sepele. Kita pun harus dapat mengingatkan teman-teman sepergaulan kita untuk selalu menghindarkan diri dari kekerasan.

Sedangkan pendekatan kuratif yang bisa dilakukan untuk mengatasi tawuran yang terlanjur terjadi adalah sebagai berikut.

4. Peran aktif dari pihak keluarga
Keluarga yang mengetahui bahwa ada anggota keluarganya ikut dalam acara tawuran harus memberikan sanksi tegas tergantung bagaimana aturan dan peran orang tua dalam mendidik anak yang berlaku di keluarga tersebut. Namun perlu diperhatikan bahwa sanksi janganlah berupa kekerasan fisik karena itu merupakan sebuah ironi, melarang untuk berbuat kekerasan dengan cara kekerasan.

5. Peran aktif guru dan lingkungan sekolah
Guru dan lingkungan sekolah harus menindak para siswa yang terlibat dalam tawuran. Sanksi dapat dijalankan sesuai aturan yang berlaku kepada semua pelajar yang terlibat tawuran. Penyuluhan tentang bahaya tawuran juga wajib digalakkan, khusunya melalui guru BK atau BP.

6. Penegakan hukum oleh aparat kepolisian
Bila terjadi suatu tawuran pelajar maka pihak yang berwajib harus turun tangan dan menangkap provokator di antaranya. Pemicu keonaran wajib dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku. Bila ada pelaku yang memiliki usia di bawah umur maka penyuluhan juga perlu dilakukan kepada pelaku.


Sekian artikel mengenai 10 Faktor Penyebab Tawuran Pelajar dan Cara Mengatasinya. semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi sobat baik untuk mengerjakan tugas maupun untuk sekedar menambah wawasan tentang faktor penyebab tawuran, cara mengatasi tawuran dan tawuran antar pelajar. Terimakasih atas kunjungannya.

10 Faktor Penyebab Tawuran Pelajar dan Cara Mengatasinya
MARKIJAR : MARi KIta belaJAR

Loading...

Suka dengan artikel kami ? Tidak ada salahnya untuk berlangganan artikel terbaru dari MARKIJAR.Com langsung via email mu :

0 Response to "10 Faktor Penyebab Tawuran Pelajar dan Cara Mengatasinya"

Post a Comment